Benni juga mengungkapkan, jika generasi muda Indonesia tidak produktif, tidak sehat, tidak cerdas, tentu akan menjadi persoalan tersendiri.
“Dalam kaitan itu dengan kita di Purwakarta, sebenarnya kita sudah punya mekanisme bagaimana kita menangani stunting. Karena stunting merupakan isu saat ini tidak hanya secara lokal, tapi juga secara nasional,” ujarnya.
Berdasarkan data dari SKI tersebut, ada sekitar 15 ribu balita yang saat ini perlu menjadi fokus perhatian.
“Saat ini, kita sedang mendalami dari sekitat 15 ribu ini yang sudah terdampak stunting itu ada berapa? Di mana posisinya? Di desa mana? Di rumah yang mana? Itu yang saya maksud tadi dengan by name, by address. Di luar itu tentu ada Balita-balita kita yang tidak terdampak stunting. Tapi berpotensi untuk terdampak stunting,” beber Benni.
Hal tersebut, tentunya perlu intervensi, perlu upaya-upaya penanggulangan, perlu upaya-upaya penanganan, perlu upaya-upaya pencegahan.
“Berdasarkan data yang dilaporkan kepada saya secara spontan. Dari 1.200 sekian yang didata yang lalu itu sudah terentaskan kurang lebih 300-an sekian. Jadi sudah keluar dari status stunting-nya. Tapi ada juga balita-balita kita yang baru kurang lebih 400 sekian yang terdampak stunting baru. Itu yang membuat angkanya jadi bertambah,” kata Benni.
Benni memastikan bahwa bukan tidak ada upaya dari Pemkab Purwakarta. Karena di lapangan juga terbukti ada penurunan status stunting. Jadi bukan kita tidak ada upaya untuk menanggulanginya. Buktinya ada yang turun.
(Fuljo Saefulrohman)
