Nak.. Jika malam ini kamu sudah tertidur lelap, Papa masih saja duduk merenung di depan pintu kontrakan rumah kita yang cat pintunya sudah mulai mengelupas, dengan menatap sepatu sekolahmu yang sudah dua kali Papa jahit, karena robek pada bahagian ibu jari dan tumitnya. Ya Allah berikanlah aku kemampuan untuk menjadi pribadi yang tegar, menjadi seorang Papa yang penuh kasih sayang dan bertanggung jawab atas kesuksesan masa depan yang indah untuk anakku.
Maafkan Papa, Nak…! Karena semenjak dari hari pertama kelahiramu, Papa belum pernah bisa memberikan dunia seperti yang dunia berikan kepada teman-temanmu. Semenjak kamu lahir ke dunia dengan tangisan pertamamu yang memecah sunyi kontrakan bocor ini, Papa sudah tahu, bahwa tangisan itu bukanlah merupakan tangisan bayi, akan tetapi tangisan takdir. Namun disisi dan detik lain para bayi lahir disambut dengan selimut mahal, foto studio, dan tabungan masa depan, tetapi kamu lahir hanya disambut dengan tikar plastik, lampu redup, dan tangan Papa yang gemetar karena tidak punya uang untuk membayar bidan. Sejak hari itu, sampai hari ini, belum satu detik pun Papa berhasil memberikanmu dunia seperti yang dunia berikan kepada anak-anak lain.
Anak-anak lain yang lahir kedunia langsung diberi dan disiapkan merek susu formula terbaik, popok dan baju baru yang wangi, mainan yang bernyanyi, dan pelukan tanpa rasa cemas. Sedangkan kamu, Nak, dunia yang Papa berikan hanyalah dunia yang keras. Air susu ibumu yang sering kosong karena ibumu sendiri jarang makan kenyang, baju bekas yang dipakai ibumu saat ini, adalah merupakan baju pemberian tetangga beberapa bulan yang lalu, dan mainan yang ada saat ini adalah mainan yang terbuat dari botol plastik bekas, yang Papa pungut dari hasil memulung di jalanan. Maafkan Papa Nak, karena sejak kelahiranmu, hanya itu yang bisa Papa berikan dengan janji-janji kosong.
Papa ini hanyalah pekerja serabutan. Pagi jadi kuli panggul di pasar, siang jadi tukang ojek kalau ada yang mau, dan sore harinya menjadi pemulung kardus kalau pasar sudah sepi dari pengunjung maupun penjual. Papa tidak punya seragam dinas di lemari. Tidak ada gaji bulanan yang Papa terima setiap tanggal satu. Yang Papa punya hanya tangan dengan kepalan dan punggung yang setiap malam seakan terasa mau patah.
Papa masih ingat hari pertama kamu masuk SD. Kamu pulang dengan mata berbinar menceritakan bekal temanmu. Bekal mereka ada ayam goreng, sosis, susu kotak. Sedangkan bekalmu hanya nasi putih dengan garam dan sedikit minyak, yang Papa bungkus dengan plastik bekas gula. Namun kamu tidak pernah protes. Kamu hanya diam dan makan. Sikap diam kamu itulah yang justru menghancurkan hati Papa setiap hari, tetapi Papa selalu bersyukur untuk nafas hidup yang masih tersambung.
Maafkan Papa, Nak, karena tidak bisa membelikanmu tas baru seperti anak-anak lain. Tas yang kamu pakai adalah tas masih pemberian tetangga yang resletingnya sudah rusak. Di saat teman-temanmu diantar menggunakan mobil ber-AC ke sekolah, kamu harus berjalan kaki dua stengah kilometer di bawah terik matahari, dengan sepatu yang solnya sudah mulai menipis. Di saat kamu tertidur pulas, Papa melihat jemari telapak kaki kecilmu melepuh karena panas aspal, tapi Papa hanya bisa menarik nafas panjang karena Papa tidak punya uang untuk membelikanmu kaos kaki yang layak untuk dipakai sebagai alas kakimu disepatumu Nak.
Ketika sekolah mengadakan acara jalan-jalan, semua anak bersorak gembira. Hanya kamu yang pulang menunduk. Kamu bilang, “Tidak usah ikut ya Pa, alangkah lebih baik uangnya kita gunakan buat beli beras saja.” Kalimat itu keluar dari mulut anak umur delapan tahun, dan sejak itu Papa merasa gagal menjadi seorang Papa. Maafkan Papa ya Nak, karena di ulang tahunmu, Papa tidak pernah bisa memberikan kue dengan lilin dan hadiah sepeda.
Di hari ulang tahunmu Papa hanya mampu merayakannya dengan mengusap kepalamu dan berbisik, “Selamat ulang tahun, jagoan Papa,” sementara Mama di dapur menahan tangis karena hanya bisa memasak mie instan satu bungkus itupun kita bagi bertiga untuk makan.
Pada suatu hari, Papa melihat dari jendela, anak tetangga seumuranmu bermain PlayStation, punya handphone baru, liburan ke pantai setiap hari Minggu. Sedangkan kamu, hiburanmu hanya menatap langit dari genteng rumah kontrakan yang bocor sambil melihat pesawat yang lewat, dan bertanya, “Pa, kapan kita bisa menikmati naik pesawat itu Pa..?
Papa hanya bisa menjawab, “Nanti, Nak, kalau Papa sudah kaya dan punya uang.” Padahal Papa tahu, kata “kaya” itu tidak pernah akan datang untuk pekerja serabutan seperti Papa, kecuali kelak dikemudian hari Allah berkehendak lain. Kehidupan orang tua seperti Papa ini tidak punya kepastian. Hari ini ada uang lima ribu, besok belum tentu ada seribu, itulah yang sering Papa alami dari hari ke hari dalam perjalanan hidup ini. Dengan rasa bersyukur akan mencukupkan diri agar segera bahagia, sebab mengharapkan untuk semua sempurna adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Papa sering melihatmu menahan malu ketika temanmu bertanya, “Ayahmu kerja di mana?” Kamu menjawab pelan, “Kerja apa saja. Papa tahu kamu malu, bukan karena membenci Papa, tapi karena kamu sudah terlalu dewasa untuk usiamu untuk mengerti bagaimana pahitnya dunia, dan kerasnya kehidupan. Maafkan Papa karena tidak bisa memberimu kamar sendiri yang dicat dengan warna biru dengan poster kartun, seperti kamar yang dimiliki oleh anak-anak lain. Kamar kita hanya satu petak, itupun bocor disaat hujan turun, panas jika kemarau datang. Kamu belajar di lantai dengan cahaya lampu lima watt dengan pancaran cahaya yang redup.
Tapi walaupun demikian Papa merasa bangga karena, nilai-nilaimu selalu bagus. Kamu selalu juara. Dan setiap kali kamu bawa pulang piagam, Papa semakin merasa berdosa, atas ketidak berdayaan Papa memberikan sedikit lebih baik atas prestasi yang kamu peroleh di sekolah. Karena kepintaranmu seharusnya diterbangkan tinggi, bukan dikurung di dalam keterbatasan Papa yang hanya pekerja serabutan ini.
Anak-anak lain kalau sakit langsung dibawa ke rumah sakit ber-AC, bertemu dokter spesialis, sementara Kamu kalau sakit hanya Papa kompres dengan handuk basah, tetapi kamu selalu sabar dan tidak pernah mengeluh sedikitpun, itulah yang membuat hati Papa menjadi rapuh dengan selalu berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu diberikan kekuatan, kemudahan dan kesehatan .
Nak, dunia ini memang tidak adil. Dunia memberikan mainan mahal untuk anak-anak yang sudah punya segalanya, dan memberikan ujian yang terlalu berat untuk anak sepertimu. Nak…! Jika kamu nanti besar dan membaca tulisan ini, jangan pernah benci Papa. Papa sudah mencoba, sekuat tenaga yang Papa punya. Papa juga sudah mencoba menukar keringat, darah, dan harga diri Papa di jalanan, hanya untuk kamu bisa tetap sekolah, tetap makan, tetap hidup.
Mungkin Papa tidak bisa memberimu dunia, Nak. Tidak bisa memberimu rumah besar, mobil, baju bagus, dan masa depan yang mudah. Akan tetapi satu hal yang bisa Papa beri, dan tidak akan pernah kalah dari orang tua mana pun di dunia ini, adalah doa dan cinta Papa yang utuh. Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa yang hanya seorang pekerja serabutan, tapi sangat mencintaimu bahkan melebihi dari seisi dunia itu sendiri. Jadikanlah yang berlalu sebagai kenangan, yang dihadapi saat ini adalah anugerah, sementara masa depan adalah harapan. Semoga kita selalu bersyukur atas semua nikmat yang kita peroleh..!!
