Dia juga menyinggung konsep hilirisasi, dimana kondisi lahan di Kota Payakumbuh untuk pertanian tidak bisa eksten, karena keterbatasan lahan itu, Kota Payakumbuh harus memperkuat produknya, dengan industrialisasi pertanian.
“Kita produksi olahannya, lalu kita yang jual. Kita siapkan 100 wirausaha muda setiap tahun, agar pemuda tak hanya kreatif, tapi produktif mampu bersaing di tingkat global,” tuturnya.
Terkait dengan pendidikan dan tenaga pendidik, YB. Dt. Parmato Alam juga mengingatkan akan sejarah UNAND yang lahir di Payakumbuh, nenek moyang leluhur sudah memberi sinyal kalau Kota Payakumbuh adalah kota pendidikan.
“Kami akan menjadikan kota ini sebagai tujuan pendidikan yang iklusif, berdaya saing, berbasis karakter dan kearifan lokal. Semua sektor ekonomi akan bergerak, bagi anak kemenakan orang Payakumbuh bisa kuliah berbiaya murah, serta adanya program 1 rumah 1 sarjana,” katanya.
Selain itu, dia juga menegaskan sampai saat ini, yang menjadi beban masyarakat untuk pendidikan adalah banyaknya iuran atau pungutan di sekolah. Namun, dengan adanya BOSDA di masa kepemimpinannya nanti dipastikan tidak ada lagi pungutan apapun di sekolah.
“Kita akan siapkan bantuan pakaian seragam bagi siswa sekolah dari TK hingga SLTA. Pengusaha konveksi lokal yang mengerjakannya sehingga uang tetap berputar di kota kita dan pajaknya masuk ke daerah,”jelas nya.
Terkait strategi meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), YB. Dt. Parmato Alam menyampaikan kalau PAD difungsikan untuk menunjang program kemajuan kota kedepan, harus melihat potensi yang ada, namun tidak membebani masyarakat, pemerintah lahir dengan fasilitas yang ada untuk itu.
“Ada pajak retribusi daerah karena kebijakan Perda Pajak dan Retribusi Daerah Kota Payakumbuh Nomor 1 Tahun 2024. Aspek PAD akan berkembang dengan Payakumbuh menjadi kota tujuan pendidikan. Dengan meningkatkan jumlah fasilitas pendidikan tinggi di Kota Payakumbuh tentu memberi dampak perputaran uang di kota ini, termasuk dampak kepada PAD Kota Payakumbuh. Kafe-kafe dan restoran di kota ini diisi oleh mahasiswa yang kreatif, bukan untuk hal-hal yang negatif,”ucap nya.
Terkait dengan revitalisasi nilai budaya dan tradisi di Kota Payakumbuh, YB. Dt. Parmato Alam menyebut kemajuan zaman tak bisa dihambat, nilai adat budaya adalah keharusan sebagai jati diri orang Minangkabau. Pelestarian dan pengembangan adat basisnya nagari adalah keharusan karena adat salingka nagari.
“Pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) sudah menjadi muatan lokal, di nagari diperkuat lembaga KAN, sehingga adat minang fleksibel dengan kemajuan zaman, kita harus siap dengan itu. Kita punya Perda Pekat dan Maksiat sebagai antisipasi penggerusan nilai-nilai lokal dan ketertiban masyarakat, bisa ditindak adanya pelanggaran terhadap hal tersebut. Nilai-nilai sosial, ABS-SBK sebagai perwujudan visi-misi paslon nomor 5. Agama, adat budaya dan ilmu pengetahuan adalah tigo tali sapilin yang optimal untuk peningkatan SDM di Kota Payakumbuh,” tukasnya.
