Ketua DPRD Sumbar Muhidi Gelar Bimtek Literasi Informasi, Budaya Literasi Kunci Utama Cetak Generasi Unggul

Ist
Ist

Ayonusa.com – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mendorong lahirnya calon-calon pemimpin masa depan. Komitmen tersebut salah satunya melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi Tenaga Perpustakaan SMA, SMK, dan SLB se-Provinsi Sumbar.

Ketua DPRD Provinsi Sumbar, Muhidi, menghadiri sekaligus membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi Tenaga Perpustakaan SMA, SMK, dan SLB se-Provinsi Sumbar Angkatan II, Selasa (21/7/2026).

Muhidi dalam kesempatan itu menyampaikan, budaya literasi menjadi salah satu kunci utama dalam mencetak generasi unggul sekaligus melahirkan calon-calon pemimpin masa depan. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca, memahami, dan mengolah informasi dinilai jauh lebih penting dibanding sekadar mengakses informasi.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan, literasi bukan hanya kemampuan membaca buku, melainkan kecakapan berpikir yang membuat seseorang mampu membedakan fakta dan opini, menyaring informasi, serta mengambil keputusan secara bijaksana.

“Orang yang menjadi pemimpin adalah mereka yang memiliki budaya literasi. Literasi bukan sekadar membaca, tetapi menjadi pribadi yang melek informasi, berpikir kritis, dan mampu bertindak berdasarkan pengetahuan,” ujarnya.

Ia menegaskan, pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas harus dimulai dengan menanamkan budaya membaca sejak usia dini. Literasi informasi, lanjutnya, merupakan kemampuan mengenali kebutuhan informasi, mencari sumber yang benar, mengevaluasi kebenarannya, lalu memanfaatkannya secara efektif, etis, dan bertanggung jawab.

Muhidi juga mengajak peserta meneladani tradisi intelektual masyarakat Minangkabau yang telah melahirkan banyak tokoh besar nasional. Nama-nama seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Mohammad Yamin, Mohammad Natsir, Hamka, Tan Malaka, hingga Adinegoro menjadi bukti bahwa budaya membaca, menulis, dan berdiskusi telah mengakar kuat di Ranah Minang sejak dahulu.

Ia mengungkapkan, pada awal abad ke-20 hampir setiap kota di Sumbar memiliki media penerbitan. Bahkan, enam dari dua belas surat kabar berbahasa Melayu ketika itu diterbitkan di Padang. Haji Abdullah Ahmad juga menerbitkan majalah pembaruan Islam Al Munir pada 1911 yang menjadi tonggak penting perkembangan literasi di Indonesia.

Namun, Muhidi mengingatkan bahwa tantangan literasi saat ini semakin berat. Kemajuan teknologi menghadirkan banjir informasi, tetapi tidak selalu diikuti kemampuan masyarakat untuk memahami isi informasi secara mendalam. Kebiasaan membaca cepat melalui media sosial dan gawai dinilai telah menggeser budaya membaca yang kritis dan reflektif.

Karena itu, ia menilai sekolah dan perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem literasi yang sehat. Perpustakaan tidak boleh hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi harus berkembang menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan melahirkan inovasi.

“Yang kita bangun bukan sekadar minat membaca, tetapi budaya berpikir. Dari sanalah akan lahir generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu membawa Sumbar menjadi daerah yang semakin maju,” tutup Muhidi.

Melalui Bimtek tersebut, tenaga perpustakaan diharapkan mampu menjadi penggerak budaya literasi di sekolah, sehingga perpustakaan benar-benar menjadi jantung pembelajaran dalam mencetak generasi emas Sumbar. (**)

Baca berita Ayonusa.com lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *