Prof. Wahyu Wibowo dan Komponis Ananda Sukarlan Bidik Perang Timur Tengah Melalui Puisi ‘Jelang April 2026’ Karya Pulo Lasman Simanjuntak

Prof. Wahyu Wibowo dan Komponis Ananda Sukarlan Bidik Perang Timur Tengah Melalui Puisi 'Jelang April 2026' Karya Pulo Lasman Simanjuntak
Prof. Wahyu Wibowo dan Komponis Ananda Sukarlan. (f/ist)

Prof. Wahyu Wibowo, Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (UNAS)

Dengan menyebut kata-kata ‘sebab hanya Tuhan selalu ada di depan, sehingga jiwaku makin tenang’, kian menebalkan citra imanen dalam diri Pulo Lasman Simanjuntak (Penyairnya).

“Bahwa walau ada perang rudal yang tak terselesaikan, ia harus tetap meyakini pesan-Nya di atas kendaraan kemenangan,” ujar Prof. Wahyu Wibowo ketika diminta komentarnya tentang puisi berjudul “Jelang April 2026” di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Dikatakan lagi oleh Prof. Wahyu Wibowo- yang mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Bahasa di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional- Penyair Pulo Lasman Simanjuntak dengan keimanenannya itu, selalu merasakan harapan yang terbakar, yang meremuklantakkan semua sajak-sajaknya tentang Tanah Pembebasan.

Bacaan Lainnya

“Impian tentang Tanah itulah yang makin menebalkan dirinya sebagai penyair romantik, yang kata Chairil ‘serupa Ashaveros ketika mendaki bukit’. Bukit yang tak kunjung selesai didaki, bukit yang berulangkali menyebabkan sajak-sajaknya terkapar: sebuah makna perlokutif yang memancing jejak-jejak yang hermeneutis,” pungkasnya.

Ananda Sukarlan, Komponis dan Pianis

Puisi ini sangat menyentuh karena mengeksploitasi tema yang berat (trauma, perang, iman) dengan perjalanan emosinya yang kuat: dari kegelapan mimpi dan realitas perang menuju harapan cahaya ketenangan rohani.

“Yang paling “menonjok” untuk saya sebagai komponis / musisi adalah kontras antara mimpi buruk yang mengerikan dengan ketenangan akhir yang “tak tergoyahkan”.Ini mencerminkan pengalaman spiritual banyak orang di tengah krisis, bahwa ketakutan tetap ada, tapi iman mencegah untuk putus asa,” ujar Komponis dan Pianis Ananda Sukarlan di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Menurutnya , dari segi konstruksi, ini sangat simfonik, karena puisi ini berhasil menciptakan suasana gelap, cemas, dan tegang di awal, lalu bergerak secara perlahan menuju harapan akan ketenangan spiritual.

Perpindahan emosi dari ketakutan → kekhawatiran → keputusasaan → penerimaan dan ketenangan ini cukup jelas terasa.

“Ini salah satu kekuatannya, yang bisa saya bandingkan dengan Simfoni nomor 2 Jean Sibelius atau Simfoni nomor 3 Alexander Scriabin yang “dipadatkan”. Selain itu puisi ini mendokumentasikan situasi perang Donald Trump yang tega membunuh ribuan (mungkin akan menjadi jutaan) orang dan mengacaukan dunia hanya demi mengalihkan isu dokumen dan barang bukti Jeffrey Epstein,” ucapnya.

“Saat ini saya harusnya sedang di Spanyol untuk memberi masterclasses sejak awal bulan ini. Sudah beli tiket naik Qatar Airways sebelum perang, tapi kemudian penerbangan dibatalkan. Untung tiket bisa dijadwalkan ulang, dan semoga bulan depan Qatar sudah mulai terbang,” pungkasnya.

.(*)

Baca berita Ayonusa.com lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *