Layaknya makan makanan cepat saji sambil berkata, “Hanya kali ini.” Tapi metafora seperti “ikan dari selokan” tidak sekadar literal; itu mencerminkan segala hal yang kita serap—baik fisik maupun mental—tanpa memikirkan dampaknya terhadap jiwa.
Di bagian ketiga, “mata puisi ini / harus berlari ke rumah duka,” narator benar-benar di ujung keputusasaan. Rumah duka menjadi checkpoint terakhir sebelum semuanya selesai.
Tetapi bukannya damai, adegan ini justru dipenuhi kegelisahan. “Disuntik obat mata dosis tinggi,” adalah metafora yang ambigu: upaya pencerahan atau langkah terakhir yang sia-sia?
Dan ketika narator berkata ia berubah menjadi “tukang sihir,” anda mulai merasa ini bukan sekadar pencarian spiritual, melainkan transformasi ke absurditas eksistensial.
Ketidakmampuan “melihat sinar matahari berdiri tegak tiap pagi” melambangkan alienasi spiritual yang terus membayangi, bahkan setelah usaha keras untuk sembuh.
Bagian terakhir menghadirkan suasana akhir dunia, seperti klimaks film apokaliptik.
“pada malam ini / sesudah hujan dan petir bertandang di pekarangan rumah,” narasi membawa anda ke momen refleksi yang penuh getaran.
Namun, ada secercah harapan: “membaca kitab suci dengan mata kiri.” Mata kiri adalah simbol intuisi dan iman yang tersisa, bagian dari diri yang tetap menyala meskipun dunia terasa gelap. Ini seolah mengatakan: “Anda hanya punya satu senjata tersisa—percaya.”
Namun, Lasman Simanjuntak tidak memberi akhir yang nyaman. Dalam baris terakhirnya, ia menulis,
“sampai nanti kita bisa bertemu lagi / di hamparan langit baru.” Ini seperti undangan untuk perjalanan rohani berikutnya, tetapi tanpa kepastian apakah kita sudah benar-benar siap.
Puisi ini tidak menawarkan resolusi; ia lebih seperti pintu terbuka yang mengajak anda untuk terus mencari, meskipun tidak ada jaminan anda akan menemukannya.








