Setelah memainkan Waltz yang pendek,- tapi sangat indah itu- Ananda dan Ratnaganadi mempersembahkan sebuah tembang puitik berjudul “Seberapa Panjang Malammu” dari sebuah puisi karya Dedy Tri Riyadi yang terinspirasi oleh musik Nocturne op. 9 no. 2 dari sang komponis Polandia tersebut, yaitu Frederic Chopin.
Komposisi yang unik ini menguntai melodi baru dari teks puisi Dedy yang indah, dengan latar belakang Nocturne tersebut dimainkan di piano.
Konser dibuka dengan Ananda Sukarlan memainkan karyanya “December, 2016”.
Karya ini ‘merekam’ perasaan saya, dan juga pasti jutaan orang Indonesia pada hari-hari setelah peristiwa 212, yaitu 2 Desember tahun itu. Betapa rindunya kita terhadap toleransi beragama, di mana bunyi azan tetap merdu terdengar menjelang Natal yang damai.
Saling Bersahutan
Melodi lagu Natal “Noel” serta melodi azan saling bersahutan dan membuat harmoni yang indah di karya ini.
Selain karya ini, isu hak asasi manusia juga disampaikan lewat karya Ananda, cuplikan dari opera “I’m Not For Sale” tentang nyanyian korban perdagangan manusia yang secara keseluruhan akan diperdanakan tahun depan.
Di Kompetisi Piano Nusantara Plus, soprano Ratnaganadi Paramita menyanyikan aria ini, dari opera “I’m Not For Sale” dari teks puisi Emi Suy, yang membawanya menjadi Juara Pertama (1).
Sebuah kejuaraan yang lebih dari pantas, karena suara soprano Ratnaganadi sangat dalam dan menyayat hati. Ia pun tampil prima dengan gaun elegan Alleira Batik.
Di konser kemarin, selain aria opera ini, Ratna juga mempersembahkan dua tembang puitik yang berhubungan dengan sosok Ibu, yaitu “Membaca Ibu” dari puisi Heru Mugiarso dan “Perempuan Bersayap Malaikat” dari puisi Muhammad Subhan.
Lewat musiknya, Ananda menggali karakter sosok “Ibu” yang berbeda dari dua penyair yang memang gaya penulisannya juga sangat berbeda.Namun, keduanya sama-sama memiliki kekuatan dan keunikan.








