Ratnaganadi dengan bagus sekali mampu menyampaikan dua lagu musik tersebut dengan sangat ekspresif melalui suaranya yang betul-betul merdu.
Kedalaman musikalitas dan pemahaman puitiknya menunjukkan bahwa ia memiliki kematangan teknik vokal soprano.
Ratna yang masih muda juga seorang sarjana neuroscience ini, didukung oleh iringan piano sang komponisnya sendiri telah memukau kami semua yang menonton.
Ratnaganadi belajar vokal di Amerika Serikat kepada Prof. Phillip Larson, Prof. Tiffany Du Mouchelle dan almarhum Maestro Prof. János Négyesy di University of California San Diego.
Perayaan Hari Perempuan juga disampaikan oleh permainan piano solo Ananda Sukarlan lewat “Virtuosic Variations on S.M. Mochtar’s ‘Kasih Ibu’” yang mengeksplorasi motif lagu “Kasih Ibu” melalui tekstur pianistik yang kaya dan penuh warna.
Sedangkan bariton Wirawan Cuanda yang menyandang Master of Music dari University of York, Inggris memilih dua tembang puitik berdasarkan puisi penyair Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Sutikno W.S., berjudul “Apel (Cerita untuk Ibunda)” dan “Dari Jendela Ini” yang dipilih untuk babak final.
Ananda Sukarlan mengatakan bahwa Sutikno W.S. adalah salah satu penyair terbaik Lekra. Banyak karya besar lahir saat para penyair Lekra berada di penjara, namun nama mereka dan karya-karyanya hampir dilupakan.
Ananda menambahkan bahwa pemilihan puisi oleh Wirawan Cuanda menunjukkan pemahamannya yang kritis terhadap karya-karya tersebut.
Dua tembang puitik ini bernuansa gelap, hal ini wajar mengingat bahwa puisinya ditulis di dalam penjara dengan segala penderitaan yang mendera.
Memang sangat disayangkan karya-karya sastrawan seniman Lekra seakan-akan “lenyap tanpa asap”, tidak bisa ditemukan kini, tidak dicetak ulang, juga tidak dibicarakan.
Padahal itu bagian dari sejarah kita yang perlu dikaji, sebab bagaimana pun ada manusia yang diceritakan di sana, ada kesaksian tentang kehidupan, ada “jerit hewan yang terluka” kata Rendra.








