Biar Jauh Dari Keluarga Demi Untuk Berdaulat

Oleh : Onzukrisno,SH.,M.Si Dosen Administrasi Negara Fisipol Unes Padang
Oleh : Onzukrisno,SH.,M.Si Dosen Administrasi Negara Fisipol Unes Padang

Sebagai serorang Prajurit TNI, bukan Saya tidak rindu terhadap keluarga. malahan justru saya adalah orang yang paling merindukan Isteri dan anak-anak di dunia ini. Setiap jam berjaga di tapal batas, wajah isteri dan anak adalah merupakan kompas yang membuat saya tetap berdiri tegak, dalam mengawal kedaulan Negara, dengan arti kata “Biar Jauh Dari Keluarga Demi Untuk Berdaulat”.

Banyak yang bertanya, mengapa saya memilih jalan ini yaitu jalan yang membuat saya harus menukar tawa anak dan rindu kepada Isteri di ruang tamu dengan suara radio HT yang berdesis di tengah hutan. Jawabannya cukup sangat sederhana, yaitu karena saya lebih percaya dan sangat meyakini bahwa, ada rumah yang lebih besar dari rumah saya sendiri, yang bernama NKRI.

Rumah besar itu tidak dijaga dengan kata-kata, sebagaimana yang sering muncul di media social, akan tetapi rumah besar itu selalu dijaga dengan kaki yang rela melepuh akibat perjalanan panjang berpuluh-puluh kilometer untuk memastikan letak patok batas yang hampir hilang dimakan usia, catnya sudah mengelupas, besinya berkarat, nomornya tidak lagi terbaca. Kondisi berdirinya miring kesepian, ditengah semak yang tidak pernah disapa oleh siapapun selama puluhan tahun. Tidak ada yang tahu, bahwa dengan besi tua itulah selama ini memegang peran penting untuk menahan sebuah Negara agar tetap utuh.

Tidak ada yang bisa mengingat, bahwa dulu pernah ada seorang prajurit muda yang memikulnya di punggung, berjalan kaki tiga hari tiga malam menembus hutan belantara Kalimantan, ini hanya bertujuan agar anak cucunya nanti mengetahui dimana Indonesia bermula dan dimana Indonesia akan berakhir. Seperti itulah kedaulatan, dia tidak akan pernah runtuh ditembak musuh, namun akan runtuh pelan-pelan, ketika kita semua mulai lupa dimana letak batas untuk saling menjaga.

Saya adalah seorang prajurit TNI. Dalam lubuk hati yang paling dalam bersumpah bahwa saya dalam pengabdian di NKRI, bukan untuk mencari kekayaan, karena sumpah saya adalah Sapta Marga, yaitu Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Walaupun jauh dari keluarga, itu bukan kalimat sedih tetapi adalah kalimat bangga dan percaya diri , karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk dapat merasakan begitu perihnya rindu demi sebuah kedaulatan. Sinyal sering tidak ada, di pos tempat saya berjaga. Bahkan untuk mendengar suara anak saya yang menanyakan “Ayah kapan pulang..?” saya harus berjalan naik ke atas bukit, sambil menunggu hujan reda, sebab satu menit berkomunikasi via telepon akan sama harganya dengan seharian rindu.

Isteri saya adalah seorang pahlawan keluarga yang tidak pakai seragam. Dia mengajari anak kami dengan mengeja huruf, hal seperti ini sama pada saat saya mengajari prajurit baru untuk mengeja peta. Isteri saya lah yang menahan tangis saat anak demam, agar saya tidak cemas dan tetap tegar selama di medan tugas. Melalui lisan yang tidak pernah putus-putusnya kepada Allah SWT, saya titipkan Isteri dan anak-anak, dan seluruh keluarga Indonesia pada senapan yang selalu saya jaga kebersihannya disetiap waktu.

Kedaulatan itu bukan kata abstrak yang ditemui pada buku PKN. Kedaulatan itu adalah ketika seorang ibu di Entikong bisa tidur nyenyak karena tahu perbatasannya dijaga. Kedaulatan itu ketika nelayan di Natuna bisa melaut tanpa merasa takut diusir oleh kapal asing.

Untuk memastikan bisa tidur dengan nyenyak mereka yakin bahwa ada kami yang lebih memilih untuk tidak tidur demi menjaga perbatasan Negara Republik Indonesia. Di sini kami belajar arti merdeka yang sesungguhnya. Merdeka bukan berarti bisa kumpul keluarga setiap hari. Merdeka adalah ketika keluarga-keluarga lain di seluruh Indonesia bisa berkumpul setiap hari tanpa dihadapkan dengan rasa takut yang menghantui.

Hutan Papua, perbukitan Kalimantan, lautan Arafuru, puncak gunung di Poso. Di sanalah kami belajar bahwa Indonesia ini terlalu indah untuk dibiarkan robek sedikit pun. Kami pernah ditanya, apa tidak capek menjaga gunung yang tidak ada orang melihatnya..? lalu Kami jawab, biarkan manusia tidak melihat, akan tetapi Tuhan selalu melihat dan Sejarah akan mencatat, begitu besar tugas dan tanggung jawab kami selaku Parjurit TNI.

Baju loreng yang kami pakai ini tidak akan mampu membuat saya kebal terhadap peluru, akana tetapi mampu membuat saya kebal terhadap godaan untuk menyerah, karena di setiap kancingnya ada do’a ibu, do’a isteri dan anak-anak. Saya selalu ingat pesan almarhum bapak: “Jika kamu jadi tentara, jangan pernah mencari musuh, akan tetapi jangan lari kalau musuh datang mengganggu rumahmu.” Itu lah yang saya pegang sampai saat ini.

Jauh dari keluarga mengajarkan saya tentang cinta yang paling murni. Cinta yang tidak menuntut balas. Saya mencintai negeri ini bahkan ketika negeri ini tidak tahu nama saya. Akhirnya saya paham, mencintai negeri adalah seperti mencintai seseorang yang tidak pernah tahu betapa kerasnya perjuangan yang dilakukan. Itulah cinta yang paling murni. Mencintai meski tidak dikenal, menjaga meski tidak dilihat, bertahan meskipun tidak ada yang mengucapkan terima kasih.

Kami tidak butuh viral. Kami tidak butuh dipuji. Namun Kami hanya membutuhkan satu ungkapan kepastian yang tulus yaitu “jangan sia-siakan kedamaian yang kami jaga dengan keadaan jauh dari anak dan isteri yaitu Jangan pernah dikorupsi uang rakyat, karena uang itu adalah uang yang seharusnya diperuntukan untuk membeli buku”, tas dan sepatu sekolah bagi anak-anak di perbatasan yang kami ajar baca tulis di sore hari.

Selanjutnya Jangan pernah jual tanah air pada bangsa asing, tolong jangan lakukan, karena tanah itu kami jaga dengan taruhan nyawa. Di bawah tanah itu bukan tanah kosong, akan tetapi dibawahnya ada tulang, ada darah yang telah mongering menyatu dengan tanah itu sendiri. Setiap jengkal tanah yang ditandatangani di meja ber-AC, dulunya dijaga oleh seorang prajurit TNI, tidur di lumpur tanpa alas, makan sekali sehari, dia tidak menjaga tanah itu sampai menjadi hak milik bersertifikat, akan tetapi menjaga dengan taruhan satu-satunya yang dia miliki yaitu nyawanya.

Jika hari ini dengan mudahnya berkata “Investasi”, “Kerjasama” ingatlah, bahwa ada harga yang tidak pernah bisa dibayar kembali, yaitu harga seorang anak umur 19 tahun dari TNI, dan harus berkata kepada Bapaknya “Pak Ikhlaskan Saya” Demi tanah yang hari ini ingin kau jual.

Jangan pecah belah bangsa dengan isu SARA, karena di pos penjagaan, kami yang beragama Kristen selalu menjaga sholat temannya yang beraga Islam, yang beragama Islam menjaga ibadah temannya yang beragama Hindu. Kami sudah terbiasa dengan hidup heterogen dengan segala perbedaan. Biar jauh dari keluarga, demi untuk berdaulat, adalah kontrak batin antara saya dan Sang Merah Putih.

Setiap 17 Agustus, kami selalu melaksanakan upacara di tempat yang mungkin tidak ada di peta kalian. Tiang benderanya terbuat dari kayu hutan, talinya dari akar. Tapi hormat kami paling tegak di dunia. Karena kami tahu harga dari kain merah putih itu adalah kerinduan yang tidak pernah lunas terbayarkan hingga kini.

Jika suatu hari saya gugur, jangan tangisi kepergian saya secara berlebihan. Katakan pada anak saya, bahwa ayahnya tidak hilang, akan tetapi Ayahnya sedang berubah menjadi angin yang menjaga perbatasan di setiap saat, menjadi ombak yang menjaga selat dan katakan kepada isteri saya, terima kasih sudah mengizinkan saya mencintai Indonesia dengan cara yang paling berat.

Saya tidak menjaga satu pulau. Saya menjaga janji para pendiri bangsa. Janji bahwa dari Sabang sampai Merauke, kita adalah satu dan bersaudara, yaitu Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Maka biarlah kaki ini jauh dari rumah. Karena langkah kaki ini memastikan jutaan kaki lain bisa pulang ke rumah dengan aman. Biarlah tangan ini tidak bisa memeluk anak setiap malam. karena tangan ini memastikan jutaan anak Indonesia bisa dipeluk ayahnya setiap malam tanpa ketakutan terjadinya perang.

Ini bukan pengorbanan. Ini adalah kehormatan. Tidak semua orang dipanggil untuk menjaga kedaulatan. Saya dipanggil, dan saya menjawab “SIAP” Pesan saya kepada adik-adik yang membaca tulisan ini baik yang berada di kampus, di warung kopi, dimanapun berada jagalah selalu kedaulatan dengan cara, Belajar jujur, bekerja yang bersih, itu juga telah ikut menjaga NKRI.

Kedaulatan bukan hanya urusan tentara dengan senjata. Kedaulatan adalah urusan dan tanggung jawab kita bersama dengan kejujuran. Bila suatu hari nanti, ketika tugas selesai, saya akan pulang. Saya akan ketuk pintu rumah saya. Anak saya mungkin sudah lebih tinggi dari saya. Isteri saya mungkin sudah ada uban yang baru tumbuh.

Sampai hari itu tiba, izinkan saya tetap di sini. Di ujung negeri, di bawah hujan, di atas gunung, menatap bintang yang sama dengan yang kalian lihat di kota. Karena bintang itu hanya akan tetap menjadi bintang Indonesia, jika ada orang-orang yang rela jauh dari keluarga demi untuk berdaulat. Dan saya, dengan segala cinta saya, adalah salah satu dari orang itu. Untuk NKRI tercinta, untuk selamanya dan katakan bahwa aku mendapatkan kekuatan setiap kali mengingat keluargaku, dan aku pasti sukses demi mereka…!!!

 

Baca berita Ayonusa.com lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *