Ada kehilangan yang tidak benar-benar sembuh, meskipun dunia telah berkali-kali menyuruh kita untuk mengikhlaskannya. Ada rindu yang tidak kunjung selesai, meskipun hingga sekarang tubuh ini masih sangat berharap meskipun waktu sudah berjalan begitu lama bahwa “Mama Aku Rindu Pelukan-Mu”. Aku rindu tanganmu yang kasar, tangan yang mungkin tidak pernah mengenal lembutnya pekerjaan kantor, akan tetapi selalu mampu mengusap kepala ku dengan penuh kasih sayang. Mama aku ridu telapak tanganmu yang menyimpan jejang perjuangan, yang saban hari bergelimang dengan debu, kotoran, panasnya terik matahari dan kerasnya kehidupan. Tangan yang oleh sebagian orang mungkin terlihat biasa, akan tetapi bagi anakmu ini adalah merupakan tangan yang paling mulia yang pernah diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membesarkanku.
Pekerjaan sebagai pemulung, dengan cara mengambil barang-barang yang dibuang oleh orang lain, mengumpulkan botol plastik, kertas, kardus, seng-seng bekas dan segala sesuatu yang bisa untuk dijual demi mendapatkan uang. Di samping itu Mama juga bekerja serabutan, mengerjakan apa saja yang penting halal, menerima pekerjaan apapun yang penting dapat menyambung hidup. Sebagian orang mungkin beranggapan memungut sampah adalah suatu pekerjaan yang rendah, akan tetapi mereka lupa bahwa dari sampah yang dikumpulkan ada masa depan seorang anak yang sedang dibangun. Dari kardus bekas yang dikumpul, ada buku pelajaran yang bisa dibeli. Dari seng bekas dan botol plastik yang dikumpul, ada uang sekolah yang berusaha untuk dilunasi. Biarlah tubuh ini lelah, biarlah badan ini capek dengan harapan suatu hari esok, anak-ku tidak harus menjalani kehidupan keras seperti yang aku rasakan saat ini. Dunia sering salah menilai tentang kemiskinan, sementara Tuhan sangat mengetahui bahwa, betapa kayanya hati seorang Mama, yang rela mengorbankan dirinya demi untuk masa depan anaknya.
Ada cinta yang tidak pernah hilang dibalik tumpukan sampah. Di sanalah Mama berdiri dengan menyandang karung di pundaknya. Pernahkah Mama merasa lelah disaat matahari mulai meninggi, sementara karung yang Mama bawa belum berat untuk menghasilkan uang. Pernahkan Mama merasa letih disaat kaki terus melangkah, sementara tubuh yang mulai keriput membutuhkan untuk istirahat..? Seberapa banyak rasa sakit yang engkau pendam sendiri, karena Mama tahu bahwa, jika Mama berhenti berjuang, ada kebutuhan anakmu yang mungkin tidak bisa dipenuhi. Namun Mama terlalu pandai menyembunyikan kesedihan dibalik senyumannya, dengan terbiasa menyampaikan “Mama tidak apa-apa, padahal mungkin tubuh Mama sudah tidak sanggup lagi menanggung beban kehidupan, dan Mama selalu sering mendahulukan kebutuhanku, sampai-sampai kebutuhan Mama sendiri sering terlupakan.
Mama, di titik hidup yang paling jauh dari rumah ini, aku baru mengerti, tidak ada pelukan di dunia yang bisa menyembuhkan segalanya selain pelukan-Mu. Pelukan-Mu bukan sekadar dekapan tangan, Mama. Ia adalah rumah pertama ku, tempat pertama aku belajar bahwa dunia ini aman. Dulu aku malu jika Mama memelukku di depan teman-teman. Sekarang, di tengah kerasnya dunia, aku berdoa siang dan malam hanya untuk satu detik lagi berada dalam pelukan itu. Mama, aku rindu pelukan-Mu yang datang tanpa aku minta. Saat aku jatuh, saat nilaiku jelek, saat aku dimarahi ayah, Mama selalu membuka tangan lebih dulu sebelum aku membuka mulut. Kasih sayang-Mu tidak pernah menunggu aku menjadi anak yang hebat. Mama mencintaiku bahkan saat aku masih menjadi anak yang menyusahkan. Aku ingat, Mama, perjuangan-Mu dimulai jauh sebelum aku lahir. Sembilan bulan Mama membawa beban yang tak pernah Mama keluhkan, dengan doa yang tak pernah putus agar aku dapat terlahir dengan selamat. Saat aku lahir, Mama mempertaruhkan nyawa. Dan sejak hari itu, nyawa Mama tidak lagi sepenuhnya milik Mama, tapi Mama bagi untukku. Demi kesuksesanku, Mama rela menjadi manusia yang tidak tidur. Aku masih ingat lampu dapur menyala pada jam 03.00 pagi, Mama menjahit, Mama menyetrika seragamku, Mama menghapal pelajaran untuk mengajariku besok. Mama adalah guru pertama yang tidak pernah digaji, tidak pernah libur, dan tidak pernah mengeluh, ga pernah mengeluh kecapean. Mama mengajariku huruf demi huruf dengan sabar, padahal tangan Mama sendiri gemetar karena lelah bekerja seharian sebagai pemulung.
Disaat ayah sudah tiada karena dipanggil Oleh Tuhan Yang Kuasa, Mama menjadi ayah. Saat uang tidak ada, Mama menjadi penolong. Mama berpura-pura sudah kenyang agar aku bisa makan kenyang. Betapa banyak kebohongan suci yang Mama lakukan untukku. “Mama tidak suka ayam, nak, makanlah.” Padahal Mama sangat lapar. “Baju Mama masih bagus.” Padahal baju itu sudah robek bertahun-tahun demi membelikan baju baru untukku.Mama, kesuksesan yang hari ini orang lihat pada diriku, bukanlah kesuksesanku. Itu adalah air mata-Mu yang dikeringkan menjadi doa.Di setiap ijazahku, ada sidik jari-Mu. Di setiap piala yang pernah ku bawa pulang, ada keringat-Mu yang menetes di tong-tong sampah, di pasar, dikomplek perumahan Orang-orang memuji aku pintar, tangguh, berhasil. Mereka tidak tahu, kepintaranku adalah karena perjuangan Mama yang tidak mengenal lelah. Ketangguhanku adalah karena aku melihat punggung Mama yang tidak pernah membungkuk meski beban hidup menghantam.Mama tidak pernah memintaku untuk membalas. Bahkan saat aku sudah bekerja dan punya uang, Mama selalu berkata, “Simpan saja untuk masa depanmu, nak. Mama cukup melihat kamu bahagia. “Betapa agungnya kasih sayang itu, Mama. Kasih yang tidak pernah menghitung untung rugi. Kasih yang memberi tanpa henti dan tidak pernah menagih kembali. Sekarang aku sudah dewasa, sudah jauh merantau, sudah bisa membeli apa saja. Tapi satu hal yang tidak bisa kubeli lagi adalah pelukan-Mu yang tulus tanpa syarat itu.Pelukan di dunia ini banyak yang palsu, Mama. Pelukan karena butuh, pelukan karena ada maunya, pelukan karena kasihan. Hanya pelukan-Mu yang jujur, yang memelukku bukan karena aku siapa, tapi karena aku adalah anak-Mu.
Mama, aku rindu cara Mama memelukku sambil berbisik, “Sudah, tidak apa-apa, ada Mama di sini.” Kalimat itu saja sudah membuat semua masalahku yang besar menjadi kecil.Di pelukan-Mu, aku tidak perlu menjadi orang sukses, orang kuat, orang hebat. Di pelukan-Mu, aku boleh menjadi anak kecil lagi yang rapuh dan menangis sepuasnya. Perjuangan-Mu untuk kesuksesanku tidak pernah menggunakan kekerasan, tapi menggunakan doa. Aku baru tahu, setiap malam setelah aku tertidur, Mama bangun dan menangis di sajadah, menyebut namaku satu per satu dalam doa yang panjang. Doa Mama menembus langit sebelum usahaku menembus dunia. Kesuksesan ku hari ini adalah jawaban Tuhan atas doa Mama yang tidak pernah tidur. Mama rela dihina orang karena membela aku. Mama rela bertengkar dengan dunia demi memastikan aku tetap sekolah. Mama adalah pembela terhebat yang tidak pernah aku hargai dengan cukup. Jika kaki ku bisa melangkah sejauh ini, itu karena Mama yang menjadi alasnya. Jika tangan ku bisa menggapai setinggi ini, itu karena Mama yang mengangkatnya dengan doa. Mama, maafkan aku. Maafkan untuk setiap kata kasarku dulu, untuk setiap kali aku membentak karena malu, untuk setiap kali aku lupa menelepon, untuk setiap kali aku lebih memilih teman daripada Mama. Maafkan anakmu yang baru sadar betapa mahalnya kasih sayang Mama setelah Mama tidak lagi setiap hari di sampingku. Kini aku mengerti, kesuksesan sejati bukanlah jabatan, bukanlah gelar, bukanlah uang. Kesuksesan sejati adalah masih memiliki Mama untuk kupeluk. Karena tanpa pelukan-Mu, semua pencapaian ini terasa hampa. Apa arti gedung tinggi jika tidak ada Mama yang menungguku di berandanya..? Mama, jika waktu bisa diputar, aku ingin kembali menjadi anak kecil yang tidur di pangkuan-Mu, yang rambutnya Mama usap dengan penuh cinta sambil bersenandung. Aku ingin kembali ke masa di mana kebahagiaan ku sesederhana mencium tangan Mama setelah pulang mengaji. Andai surga ada di telapak kaki-Mu, maka aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk bersujud di sana, menjaga kaki itu agar tidak lelah lagi. Mama, aku rindu. Rindu yang tidak bisa disembuhkan oleh telepon, tidak bisa diobati oleh video call. Rindu yang hanya bisa sembuh dengan pelukan.
Mama.. aku adalah anak yang ingin memahami betapa mahalnya sebuah pengorbanan, setiap buku yang aku baca mungkin dibeli dari hasil kerja keras Mama, setiap langkahku menuju sekolah, mungkin aku berdiri di atas pengorbanan Mama, sedtiap kali aku mengenakan pakaian, mungkin ada keinginan Mama sendiri yang Mama tunda demi untuk memenuhi kebutuhanku. Bukan Mama tidak memiliki keinginan, melainkan karena engkau memiliki cinta yang membuat keinginan Mama selalu berada pada urutan paling akhir.
Peluk aku lagi, Ma. Seperti dulu, peluk aku erat-erat seolah dunia di luar tidak ada. Peluk aku sampai aku lupa semua luka dan kecewa di dunia orang dewasa ini.Katakan lagi bahwa aku anak hebat-Mu, bahwa Mama bangga padaku, bahkan saat dunia berkata aku gagal. Karena validasi dari Mama adalah satu-satunya yang aku butuhkan.Perjuangan-Mu belum selesai, Mama. Sekarang giliranku. Giliranku yang harus berjuang agar Mama bisa tersenyum tanpa beban, agar sisa umur Mama hanya berisi bahagia, bukan lagi air mata.Mama, tunggu aku pulang. Aku sedang dalam perjalanan untuk kembali. Bukan untuk membawa gelar atau uang, tapi untuk membawa diriku kembali ke pelukan-Mu.Karena pada akhirnya, setelah semua kesuksesan ku kumpulkan, aku hanya ingin satu hal: mati dalam keadaan masih sempat memeluk-Mu dan berkata, “Terima kasih, Mama, aku sangat mencintai-Mu, lebih dari hidupku sendiri.”
Jika suatu hari kelak aku berdiri dengan pakaian kebanggaan, menerima penghargaan atau dipanggoil dengan gelar yang membanggakan, aku akan ingat bahwa ada seorang perempuan yang dahulu berjalan dibawah terik matahari sambil membawa karung yang berisi barang bekas disandang dipundaknya, dan aku akan mengingat kembali bahwa dibalik pencapaian ku ini, ada tangan yang pecah-pecah karena pekerjaan, ada punggung yang menanggung beban, da nada hati yang tidak pernah berharap pembalasan, dan murni karena Cinta seorang Mama kepada anaknya. Maafkan aku Mama, karena aku dahulu lebih sering melihat kekurangan hidup kita daripada kehebatan perjuangan yang Mama lakukan. Maafkan juga aku Mama karena saat itu belum cukup dewasa untuk memahami bahwa kemiskinan bukanlah aib, dan bekerja sebagai pemulung bukanlah suatu pekerjaan yang merendahkan martabat manusia. Yang membuat kita malu adalah hati yang kehilangan rasa hormat kepada orang-orang yang pekerja keras untuk keluarganya, dan berharap suatu hari nanti anaknya dapat hidup dengan lebih baik. Cinta yang paling tulus memang sering kali tidak pandai bercerita tentang dirinya sendiri, melainkan menuliskannya melalui hidupmu sendiri. Aku berkeinginan bahwa keberhasilan yang aku peroleh saat ini menjadi jalan untuk membahagiakan Mama melalui do’a-do’a, dan bersedekah kepada kaum ibu yang sedang berjuang untuk kesuksesan anaknya seperti yang pernah Mama lakukan untuk anakmu ini..!







